Di antara percakapan anak muda yang semakin terbuka soal identitas, keberagaman, dan kesejahteraan mental, suara Assa menonjol bukan karena keras, tetapi karena jujur. Di balik ekspresi androgini yang menjadi ciri khasnya, ada perjalanan panjang seorang pemuda yang sejak kecil harus berjuang untuk sekadar diterima menjadi dirinya sendiri. Bagi Assa, menjadi otentik bukan pilihan mudah, itu adalah bentuk keberanian paling awal yang ia pelajari sejak duduk di bangku sekolah dasar.
Ia tumbuh dalam keluarga yang didominasi perempuan dan tidak pernah mempersoalkan caranya mengekspresikan diri. Namun dunia di luar rumah tidak selalu memancarkan penerimaan yang sama. Sejak kecil, Assa telah merasakan bagaimana stereotip gender dapat membatasi ruang gerak anak muda yang berbeda. Pengalaman itu kemudian membawanya pada pemahaman yang lebih luas: bahwa keberagaman identitas gender bukan sekadar label, tetapi realitas yang menuntut pengakuan dan ruang aman.
Dari Kebingungan ke Penerimaan
Assa mulai merasakan perbedaan sejak kelas 3 SD. Minatnya puzzle, kartu, ular tangga dinilai “tidak cukup laki-laki”. Cara ia berjalan, berbicara, dan mengekspresikan diri dianggap “terlalu feminin”. Norma maskulinitas yang kaku membuatnya menjadi sasaran sorotan, ejekan, hingga perundungan. Ia tumbuh dalam keluarga tokoh agama, sehingga tubuh dan ekspresinya selalu berada di bawah standar moral yang ketat, bagaimana ia berpakaian, bersikap, bahkan bergaul.
Masuk SMP hingga SMK, perundungan berubah menjadi kekerasan fisik, verbal, dan nonverbal. Tubuhnya sering menjadi objek pelecehan yang disamarkan sebagai “canda laki-laki”. Tidak ada tempat berlindung, tidak ada sekutu. “Aku yakin semua orang akan tetap menyalahkan ekspresi genderku,” katanya. Pada masa SMK, ia mencoba beradaptasi secara drastis. Ia memaksa dirinya menjadi maskulin, mengubah cara berjalan, nada suara, gestur. Tetapi setiap hari ia merasa memakai topeng yang menyesakkan. “Aku sedang membohongi diriku sendiri,” ungkapnya. “Aku hanya ingin menjadi diriku apa adanya.”
Perubahan baru terjadi ketika ia berkuliah. Assa bertemu komunitas yang tidak menertawakan identitasnya. Mereka mendengarkan, mendukung, dan memberi ruang aman untuk berproses. Tahun 2022 menjadi titik balik. Melalui berbagai pelatihan keragaman gender, kesehatan reproduksi, dan pemberdayaan diri, ia akhirnya mengenali dirinya dengan utuh: ia adalah individu Non-Biner dengan ekspresi gender Androgini. Bukan karena tren, bukan karena paksaan, tetapi karena proses refleksi yang panjang dan jujur.
Data Komnas Perempuan menunjukkan bahwa kelompok muda dengan ekspresi gender non-konform sering menghadapi diskriminasi berlapis, mulai dari sekolah hingga dunia kerja. Pengalaman Assa membenarkan kenyataan itu. Bullying yang ia alami sejak kecil masih meninggalkan trauma hingga kini. Tidak mudah menerima bahwa tubuh sendiri bisa menjadi target kekerasan hanya karena tidak sesuai norma sosial.
Kisah Assa menunjukkan bahwa diskriminasi terhadap individu non-biner dan ekspresi gender non-konform bukan persoalan pribadi, tetapi bagian dari pola yang lebih luas dalam masyarakat. Norma maskulinitas yang kaku, minimnya edukasi tentang keberagaman gender, serta lingkungan sekolah yang masih memaklumi perundungan membuat anak muda yang berbeda sering tumbuh dalam ketakutan dan kebingungan. Ketika identitas seseorang dijadikan bahan olok-olok atau ancaman moral, maka yang diserang bukan hanya keberadaannya, tetapi martabatnya. Inilah mengapa ruang aman, edukasi publik, dan sistem perlindungan menjadi kebutuhan mendesak bukan sekadar wacana.
Kini, tantangan itu muncul dalam bentuk berbeda, di dunia kerja sebagai guru. Ekspresinya dianggap “kemayu”, “berbahaya untuk anak-anak”, atau “tidak pantas”. Namun, ia memilih menjawab stigma dengan kompetensi. “Mereka akhirnya menilai aku dari caraku mengajar, bukan identitasku,” katanya. Sebuah langkah kecil tetapi penting dalam membuka ruang penerimaan.
Ruang Aman dan Inklusi: Fondasi Keberagaman
Bagi Assa, ruang aman bukan sekadar tempat berkumpul, tetapi ruang untuk bernapas tanpa takut dihakimi, didengarkan tanpa harus menjelaskan diri berulang-ulang, dan diapresiasi dalam setiap proses pendewasaan. Bagi banyak anak muda Indonesia, terutama generasi Z, ruang seperti ini semakin penting untuk membantu mereka memahami diri sendiri tanpa tekanan sosial yang membatasi.
Dalam perjalanannya, komunitas, teman sebaya, dan organisasi menjadi fondasi yang membentuk rasa aman tersebut. Mereka hadir sebagai support system, tempat belajar, advokat, serta pemberi akses terhadap layanan kesehatan tanpa stigma. Lebih dari sekadar lingkungan sosial, ruang ini memungkinkan anak muda seperti Assa menumbuhkan versi terbaik dirinya tanpa perlu mengubah atau menanggalkan identitas yang ia miliki.
Inklusi sosial bagi Assa, berarti setiap individu dihargai dan memiliki kesempatan yang sama untuk berpartisipasi dalam masyarakat. “Inklusi dimulai dari kehendak untuk mendengar tanpa menghakimi,” ujarnya. Meski kini diskusi tentang keberagaman gender semakin terbuka dan generasi muda lebih berani mengekspresikan diri, penerimaan sosial masih jauh dari sempurna. Perubahan memang terlihat, tetapi perjuangan agar keberagaman benar-benar dirayakan bukan sekadar diakui masih harus terus diperjuangkan bersama.
Suara Assa untuk Kesetaraan
Bagi anak muda yang tersesat di tengah bisingnya tuntutan sosial, Assa menawarkan pengingat yang tegas namun lembut: “Identitasmu adalah harga dirimu, bukan beban. Berani otentik adalah bentuk pemberontakan paling damai.” Baginya, kesetaraan tidak lahir dari memperlakukan semua orang secara seragam, tetapi dari keberanian mengakui setiap individu sebagai subjek yang setara, tanpa menempatkan satu identitas di atas atau di bawah yang lain. Assa ingin masyarakat memahami bahwa keberagaman identitas gender bukan teka-teki yang harus diselesaikan, tetapi realitas manusia yang perlu dihormati. Menggunakan nama dan kata ganti yang dipilih seseorang mungkin tampak seperti gestur kecil, tetapi bagi Assa itulah bentuk penerimaan paling nyata, sebuah cara sederhana menunjukkan bahwa keberagaman bukan ancaman, melainkan bagian alami dari kemanusiaan.
Ketika membayangkan masa depan, Assa melihat sebuah masyarakat yang memahami bahwa setiap manusia berbagi martabat yang sama, apa pun identitasnya. Baginya, kesetaraan tumbuh dari pengakuan bahwa setiap orang membawa pengalaman dan cerita yang layak dihargai. Cerita Assa menjadi pengingat bahwa setiap dari kita memiliki peran: menciptakan ruang aman di sekolah, tempat kerja, dan keluarga agar keberagaman dapat hidup, bukan sekadar ditoleransi.
Di tengah dunia yang masih gemar mengkotakkan manusia, suara Assa hadir sebagai penegas bahwa perubahan tidak selalu lahir dari tindakan besar, sering kali ia berawal dari sikap paling sederhana: keberanian untuk membuka ruang, mendengar, dan melihat satu sama lain apa adanya. Dan dari sanalah, sedikit demi sedikit, kita belajar bahwa kemanusiaan tidak memiliki hierarki. Kesetaraan tumbuh ketika kita memilih menghargai perbedaan, bukan menghapusnya, dan ketika kita memahami bahwa setiap identitas adalah bagian sah dari dunia yang ingin kita bangun bersama.