Di Indonesia, pengalaman perempuan sejak usia dini masih kuat dibentuk oleh norma gender yang timpang. Berbagai laporan lembaga seperti Badan Pusat Statistik dan Komnas Perempuan menunjukkan bahwa anak dan remaja perempuan kerap mengalami kekerasan berbasis gender nonfisik, mulai dari ejekan atas tubuh, pelabelan moral, hingga pembatasan peran di ruang pendidikan dan sosial. Kekerasan ini sering kali tidak dikenali sebagai kekerasan karena hadir dalam bentuk candaan, nasihat keluarga, atau tradisi yang dianggap wajar. Namun justru dari ruang-ruang yang dinormalisasi inilah ketimpangan gender diwariskan secara perlahan.
Realitas itu bukan sekadar angka dan laporan. Ia hidup dalam pengalaman sehari-hari banyak perempuan, termasuk Try. Sejak kecil, Try tumbuh dalam ruang yang akrab dengan penilaian atas tubuhnya, penilaian yang tidak pernah ia pilih. Julukan-julukan seperti “Try si kutilang darat” (kurus, tinggi, dada rata), “kaki belalang”, atau “testa lapangan” bukan sekadar candaan anak-anak, melainkan bentuk kekerasan simbolik yang menanamkan pesan bahwa tubuh perempuan adalah ruang publik yang sah untuk dinilai dan dipermalukan. Dari pengalaman paling dini ini, Try belajar bahwa menjadi perempuan berarti hidup di bawah sorotan sosial yang kerap tidak ramah.
Di tengah tekanan tersebut, Try justru dikenal sebagai anak yang aktif dan berprestasi. Sejak kelas satu hingga kelas enam sekolah dasar, ia selalu meraih peringkat pertama di kelas. Namun prestasi akademik itu tidak sepenuhnya dirayakan sebagai kemampuan. Sebaliknya, ia dibaca sebagai sesuatu yang melampaui batas “kepantasan” perempuan. Ucapan seorang pamannya “Kamu selalu ambil posisi laki-laki. Sesekali kasih kesempatan ke laki-laki, itu posisi mereka” menjadi penanda awal bahwa kecerdasan perempuan sering kali dianggap ancaman, bukan potensi. Sejak usia dini, Try memahami bahwa perempuan yang unggul kerap diminta untuk mengecilkan diri demi menjaga tatanan yang sudah mapan.
Kesadaran ini tumbuh seiring pengalamannya hidup dalam keluarga dan komunitas yang menormalisasi patriarki. Sebagai anak ketiga dari empat bersaudara dalam keluarga, Try dibesarkan tanpa televisi, telepon genggam, atau laptop. Ibunya bekerja di sawah sekaligus membuat jajanan untuk dijual, sementara ayahnya bertugas sebagai mantri tani yang kerap berkeliling desa. Dalam keseharian itu, pembagian peran gender diterima sebagai kewajaran: perempuan memasak, mencuci, dan makan setelah laki-laki; dalam acara adat, laki-laki berada di ruang depan, sementara perempuan di dapur. Pola-pola ini membentuk struktur kuasa yang sunyi tentang siapa yang didengar dan siapa yang harus berada di belakang tanpa perlu kekerasan fisik.
Memasuki masa remaja, pengawasan terhadap tubuh dan perilaku Try justru semakin ketat. Perundungan di SMP dan SMA terus berulang, hingga pernah membuatnya memilih tidak masuk sekolah selama satu minggu demi menghindari ejekan teman-teman laki-lakinya. Dari pengalaman ini, Try mulai menyadari bahwa menjadi perempuan bukan hanya soal bertahan hidup, tetapi juga bertahan dari penilaian sosial yang terus-menerus mengontrol. Keaktifannya dalam berbagai organisasi, Pramuka, OSIS, hingga Paskibraka yang seharusnya membuka ruang belajar dan kepemimpinan, kembali dibaca dengan kecurigaan. Kedekatannya dengan banyak teman laki-laki ditafsirkan sebagai pergaulan “terlalu bebas”. Bahkan ketika ia menunda kuliah satu tahun untuk mengikuti seleksi Polisi Wanita, muncul gosip yang mereduksi pilihannya: “Jangan-jangan dia hamil makanya tidak kuliah.” Di titik ini, semakin jelas bahwa tubuh perempuan tidak pernah sepenuhnya menjadi miliknya sendiri. Perempuan yang aktif, berani, dan vokal lebih sering dicurigai daripada dipercaya, dijinakkan melalui stigma dan narasi moral yang mengekang.
Dari Pengalaman ke Perlawanan
Memasuki dunia kampus, Try mulai menemukan ruang yang memberinya bahasa untuk memahami pengalaman hidupnya sendiri. Ia bergabung dengan berbagai organisasi, salah satunya Tenggara NTT (Tenggara Youth Community), komunitas anak muda di Kupang yang berfokus pada edukasi hak kesehatan seksual dan reproduksi (HKSR). Di ruang ini, Try terlibat dalam kampanye digital dan diskusi langsung tentang pentingnya akses informasi yang aman, akurat, dan inklusif bagi anak dan remaja. Baginya, keterlibatan ini bukan sekadar aktivitas organisasi, melainkan upaya melindungi generasi muda dari risiko kekerasan, kehamilan tidak direncanakan, dan stigma yang selama ini membungkam.
Namun, keberanian untuk bersuara kembali berhadapan dengan kecurigaan. Isu HKSR dipelintir sebagai sikap yang dianggap “terlalu terbuka soal seksualitas”. Ancaman moral yang berulang kembali muncul, “Hati-hati nanti hamil,” seolah pengetahuan tentang tubuh dan kesehatan justru identik dengan penyimpangan. Stigma ini memperlihatkan bagaimana edukasi yang seharusnya melindungi tubuh perempuan sering kali dianggap berbahaya ketika disuarakan oleh perempuan muda. Kontrol terhadap tubuh perempuan terus berlanjut, bahkan ketika yang diperjuangkan adalah keselamatan dan hak atas informasi.
Dari titik inilah Try semakin menyadari bahwa pengalaman personalnya bukanlah cerita tunggal. Ia mencerminkan realitas banyak perempuan di Indonesia, terutama di wilayah dengan norma patriarki yang kuat. Alih-alih mundur, Try memilih menjadikan pengalaman hidupnya sebagai sumber kekuatan. Ia mengubah luka menjadi pengetahuan, dan pengetahuan menjadi keberanian untuk bersuara. Baginya, kesetaraan bukan konsep abstrak, melainkan perjuangan sehari-hari untuk merebut ruang yang adil di keluarga, sekolah, komunitas, hingga ruang digital.
Perjalanan Try mengajarkan bahwa suara kesetaraan jarang lahir dari ruang yang ramah. Ia tumbuh dari pengalaman yang selama ini dipaksa diam: dari tubuh yang dinilai, prestasi yang dicurigai, hingga suara yang terus disalahpahami. Namun suara itu tidak pernah benar-benar hilang. Hari ini, suara Try berdiri sebagai penyangkalan terhadap budaya yang ingin perempuan tunduk dan mengecil. Ia menegaskan bahwa tubuh perempuan bukan ruang publik untuk dihakimi, bahwa pengetahuan bukan ancaman moral, dan bahwa keberanian bersuara bukan kesalahan. Kesetaraan tidak akan tumbuh dari keheningan yang diwariskan, melainkan dari suara-suara yang berani menggugat. Dan ketika satu suara perempuan memilih untuk terdengar, ia membuka jalan bagi banyak suara lain untuk ikut menyusul.