Perempuan dan Akses Pendidikan: Suara yang Belum Usai

Di banyak daerah di Indonesia, akses perempuan terhadap pendidikan tinggi masih dibatasi oleh norma sosial yang menempatkan mereka sebagai pengurus rumah, bukan sebagai pembelajar atau pengambil keputusan. Data nasional menunjukkan betapa timpangnya kondisi ini: BPS mencatat bahwa pada 2023 Angka Partisipasi Kasar (APK) pendidikan tinggi baru mencapai 31,45%, sementara hanya 10,20% penduduk usia 15+ yang memiliki ijazah perguruan tinggi pada 2024, angka yang semakin rendah ketika dilihat dari wilayah terpencil. Penelitian Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan (2024) juga menemukan bahwa di kelompok 20% penduduk termiskin, yang banyak berada di daerah 3T, hanya 32,28% yang mampu mengakses pendidikan tinggi. Bahkan, perempuan di pedesaan memiliki kemungkinan jauh lebih rendah untuk berkuliah dibanding perempuan di kota, sebuah kesenjangan yang juga sebelumnya dicatat oleh Jurnal Perempuan No. 94 (2017)

Namun di tengah keterbatasan geografis, ekonomi, dan budaya itu, selalu ada perempuan yang memilih melawan diam-diam, dengan cara paling sederhana: tetap belajar. Salah satunya adalah Stevie Ninoi Tualaka, perempuan muda dari keluarga petani yang membuktikan bahwa melanjutkan pendidikan bukan hanya soal gelar, tetapi tentang ruang untuk menentukan masa depan.

Dalam percakapannya, Stevie mengawali kisahnya dengan satu memori yang terus membekas: bagaimana ibunya sering diremehkan karena memiliki pendidikan rendah. “Saya melihat mama tak dianggap hanya karena tidak sekolah tinggi. Dari situ muncul keinginan untuk membuktikan bahwa perempuan bisa sekolah sejauh apa pun,” ujarnya. Pengalaman itu menjadi pintu masuk bagi perjalanan panjangnya mengejar pendidikan hingga ke Belanda.

 

Dari Pembuktian ke Pertumbuhan

 

Awalnya, pendidikan bagi Stevie adalah bentuk perlawanan terhadap sistem patriarki yang menempatkan perempuan sebagai pelengkap. Ia ingin membuktikan bahwa anak perempuan dari seorang ibu yang sering diremehkan bisa menjadi sosok yang berpendidikan. Namun seiring perjalanan, motivasinya berubah. “Saya sekolah bukan untuk membuktikan apa-apa kepada siapa pun. Semakin saya belajar, semakin saya ingin berkembang dan memahami dunia,” ujarnya.

Kesadaran itu semakin kuat ketika ia melihat perempuan-perempuan muda di kampungnya, banyak yang menikah segera setelah SMA karena tekanan sosial atau ketakutan bermimpi terlalu besar. Bagi Stevie, pendidikan bukan hanya pintu keluar dari kemiskinan, tetapi ruang bagi perempuan untuk bersuara, memimpin, dan menentukan masa depannya sendiri. Perjalanannya tidak pernah mulus. Tantangan terberat justru bukan berasal dari pelajaran, tetapi dari stigma sosial yang terus menyertainya. Ia sering mendengar komentar-komentar yang meremehkan: “Perempuan itu cocoknya di kampung saja. Umur segini seharusnya sudah menikah. Sekolah tinggi nanti tidak ada laki-laki yang mau.” Kalimat-kalimat itu menempel lama, membuatnya bertanya dalam hati apakah ia terlalu berambisi atau memilih jalan yang salah. Namun ada bagian dari dirinya yang terus mendorong: tetap mencoba meski takut dan tidak pasti.

Cobaan akademik pun tidak kalah berat. Stevie pernah lima kali gagal tes bahasa Inggris, dan setiap kegagalan seperti tamparan yang membuatnya meragukan kemampuan diri sendiri. Ia juga dua kali gagal beasiswa Australia Awards, program yang ia idamkan sejak lama. Namun alih-alih menyerah, setiap kegagalan menjadi alasan baginya untuk bangkit lagi. Setelah proses panjang yang menguras tenaga dan emosi, ketekunan itu akhirnya berbuah manis: Stevie lolos LPDP, menegaskan bahwa kegigihan mampu menembus keterbatasan apa pun.

Di tengah perjalanan itu, Stevie juga menyadari bagaimana bias gender hadir di ruang akademik dan komunitas desa. Pendapat laki-laki lebih sering didengar, sementara suara perempuan dianggap pelengkap. Dalam sebuah diskusi publik yang pernah ia fasilitasi, peserta yang hadir hampir seluruhnya laki-laki. “Itu membuat saya sadar bahwa perempuan sering tidak dihitung sebagai pihak yang relevan,” katanya.

Alih-alih menerima keadaan, Stevie dan timnya mendatangi kelompok perempuan satu per satu. Mereka mengajak, membuka ruang, dan memastikan perempuan merasa layak untuk hadir dan bersuara. Dari pengalaman itu, Stevie belajar bahwa diskriminasi tidak selalu muncul dalam bentuk larangan keras, sering kali ia hadir dalam bentuk pengabaian yang dianggap biasa. Melalui semua proses itu, Stevie memahami bahwa pendidikan bukan lagi tentang membuktikan siapa dirinya kepada dunia. Pendidikan telah menjadi ruang pertumbuhan: ruang untuk mengenal diri, menantang batas, dan membuka jalan bagi perempuan lain untuk bermimpi lebih jauh.

 

Dukungan yang Menguatkan: Suara dari Rumah

 

Meskipun tumbuh dalam lingkungan patriarkis, Stevie justru menemukan kekuatan terbesar dari rumahnya sendiri. Kedua orang tuanya, terutama ibunya menjadi sumber keberanian yang terus menuntunnya. Ia masih mengingat pesan bapaknya: “Kami tidak punya banyak uang, tapi ilmu bisa jadi warisan sampai mati.” Dan pesan ibunya yang jauh lebih membekas: “Kalau kamu sekolah, kamu bisa bicara. Kamu bisa berdiri untuk diri sendiri.” Kalimat-kalimat sederhana itu menjadi pegangan saat ia nyaris menyerah, saat kegagalan terasa menumpuk, dan ketika suara-suara di luar meremehkan pilihannya. Bagi Stevie, pendidikan bukan hanya jalan bagi masa depannya sendiri, tetapi juga cara untuk memutus rantai ketidakadilan yang selama ini membungkam perempuan di keluarganya.

Stevie percaya bahwa pendidikan perempuan adalah fondasi perubahan sosial. Ia bukan memaknainya sebagai gelar, tetapi sebagai ruang yang membuka peluang dan pilihan. “Pendidikan memberi perempuan ruang untuk bermimpi, bersuara, dan mengambil keputusan,” ujarnya. Dalam banyak keluarga, perempuan adalah pendidik pertama bagi generasi berikutnya. Ketika perempuan memiliki akses pada pengetahuan, mereka mampu menanamkan nilai kesetaraan, keberanian, dan berpikir kritis.

Dampak pendidikan bagi perempuan tidak berhenti pada individu; ia menjalar ke keluarga, komunitas, bahkan memengaruhi cara masyarakat melihat perempuan. Satu perempuan yang mendapatkan ruang untuk belajar dapat membuka jalan bagi banyak perempuan lain yang sebelumnya tidak berani bermimpi. Untuk perempuan dari daerah 3T atau keluarga ekonomi terbatas, Stevie memiliki pesan yang lahir dari pengalaman pribadinya: jangan biarkan keterbatasan geografis atau ekonomi membatasi masa depan. Ia tahu rasanya gagal berkali-kali, tahu sulitnya mencari akses belajar atau informasi. Tetapi ia percaya bahwa mimpi besar sering dimulai dari langkah kecil bergabung dengan komunitas belajar, bertanya pada mereka yang sudah berpengalaman, atau sekadar berani memulai. “Kalau satu pintu tertutup, cari pintu lain. Kalau semua pintu tertutup, cari jendela,” katanya.

Pada akhirnya, bagi Stevie, kesetaraan berarti perempuan dan laki-laki memiliki kesempatan yang sama untuk bermimpi, belajar, dan menentukan jalan hidup tanpa dibatasi norma yang tidak adil. Dan pendidikan adalah salah satu cara paling kuat untuk membuka pintu itu. “Suara perempuan itu penting. Pendidikan membuat suara itu didengar,” tutupnya.