Perempuan Muda dan Ruang Aman Digital

Saat pertama kali membuka akun media sosial di bangku SMA, Ilta merasa dunianya tiba-tiba membesar. Dari Kota Soe, Kabupaten Timor Tengah Selatan, ia mulai terhubung dengan orang-orang yang tinggal ratusan kilometer jauhnya, mengikuti percakapan yang tak pernah ia temui di ruang kelas, serta mengakses pengetahuan yang sebelumnya terasa mustahil. “Waktu itu rasanya seperti punya dunia baru,” kenangnya. “Saya bisa belajar banyak hal yang tidak pernah dibahas di sekolah, mendengar pendapat orang lain, melihat pengalaman perempuan dari tempat yang jauh, dan merasa tidak sendirian.” Bagi Ilta, media sosial bukan sekadar ruang hiburan, melainkan pintu awal untuk belajar, membangun kesadaran, dan perlahan menumbuhkan rasa percaya diri sebagai remaja.

Namun, seiring waktu, ruang yang awalnya terasa luas itu perlahan menyempit. Beranda media sosialnya dipenuhi standar kecantikan yang tak realistis, komentar sinis, serta konten yang menempatkan perempuan sekadar sebagai objek visual. “Dari yang awalnya senang, lama-lama saya jadi mempertanyakan diri sendiri. Makin insecure,” kenangnya. Pengalaman Ilta bukanlah kisah tunggal, melainkan potret kegelisahan banyak perempuan muda yang tumbuh bersama teknologi digital.

Di Nusa Tenggara Timur (NTT), perempuan muda hidup di antara dua dunia. Di satu sisi, ruang digital menawarkan akses pengetahuan, jejaring solidaritas, dan peluang partisipasi sosial. Di sisi lain, ia menyimpan bias lama yang dibungkus teknologi baru, patriarki yang tampil dalam bentuk komentar merendahkan, pengawasan terhadap tubuh perempuan, hingga serangan personal ketika perempuan memilih bersuara. Ruang digital memang terbuka bagi semua orang, tetapi kesetaraan di dalamnya belum sepenuhnya hadir.

Data Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) tahun 2023–2024 menunjukkan bahwa penetrasi internet nasional telah melampaui 78 persen, dengan pertumbuhan signifikan di wilayah Indonesia Timur. Namun, akses tidak selalu berarti aman. Media digital lokal masih kerap memproduksi konten yang mereproduksi stereotip gender: tubuh perempuan digunakan sebagai ilustrasi berita tanpa relevansi, identitas korban diungkap tanpa sensitivitas, dan pengalaman perempuan direduksi menjadi narasi sensasional. Minimnya perspektif keadilan gender dalam jurnalisme membuat ruang digital menjadi medan yang timpang, tempat perempuan mudah diserang, tetapi sulit dilindungi.

Situasi ini semakin terasa ketika perempuan muda memilih untuk aktif berbicara. Sejak SMA, Ilta terlibat dalam edukasi kesehatan seksual dan reproduksi, topik yang masih dianggap tabu di banyak keluarga dan sekolah di NTT. Setiap kali isu ini diangkat, terlebih saat bersinggungan dengan kasus kekerasan seksual yang viral, ruang digital berubah menjadi arena penuh tekanan. Pernah suatu waktu, akun komunitas yang ia kelola terancam diretas karena dianggap terlalu berani menyuarakan isu yang “tidak pantas dibicarakan”.

Secara personal, Ilta juga menerima komentar yang merendahkan. Ia dicap sok tahu, dianggap mencari perhatian, bahkan distigmatisasi karena konsisten mengedukasi publik tentang kekerasan seksual. Pengalaman ini menunjukkan bagaimana perempuan di ruang digital menghadapi kekerasan berlapis. Ketika perempuan berbicara, mereka dianggap melanggar norma. Ketika diam, mereka disalahkan karena tidak peduli. Apa pun pilihannya, risiko tetap ada. Bias ini tidak berdiri sendiri. Ia diperkuat oleh algoritma media sosial, dilegitimasi oleh budaya diam, dan sering kali dibiarkan oleh sistem yang tidak berpihak. Kepentingan klik dan popularitas kerap mengalahkan etika. Akibatnya, banyak perempuan muda merasa tidak memiliki kendali atas bagaimana pengalaman dan identitas mereka diperlakukan di ruang publik digital.

Menyadari kerentanan tersebut, Ilta dan kawan-kawannya mengembangkan strategi bertahan. Mereka memperkuat keamanan akun dengan kata sandi yang kompleks dan verifikasi dua langkah, membatasi komentar yang mengandung kekerasan verbal, serta lebih selektif dalam membagikan informasi personal. Mereka juga belajar mengambil jeda, menjauh sejenak dari layar ketika tekanan terasa terlalu berat. Langkah-langkah ini mungkin tampak sederhana, tetapi bagi perempuan muda, ia adalah bentuk perlawanan sehari-hari terhadap sistem yang belum sepenuhnya aman.

Di tengah segala tantangan, ruang digital tetap menyimpan potensi besar. Bagi Ilta, platform digital justru menjadi ruang belajar dan solidaritas. Melalui komunitas daring, diskusi kecil, dan akun-akun edukatif, perempuan muda saling berbagi pengetahuan tentang tubuh, batas personal, serta hak-hak dasar yang selama ini tertutup oleh budaya tabu. Di ruang-ruang inilah, keberanian tumbuh perlahan. Ruang digital juga membuka peluang partisipasi yang lebih luas. Suara perempuan muda di media sosial mampu mengkritik kebijakan publik, menyoroti lemahnya mekanisme penanganan kekerasan berbasis gender daring, serta mendorong praktik media yang lebih adil. Selain itu, platform digital memberi peluang ekonomi dari usaha kecil, kerja kreatif, hingga jejaring professional yang memperkuat kemandirian perempuan.

Namun, potensi ini tidak akan maksimal tanpa ekosistem yang berpihak. Ruang digital perlu dibangun ulang sebagai ruang yang aman dan inklusif. Media lokal memiliki tanggung jawab besar untuk kembali pada jurnalisme publik yang etis dan sensitif gender. Pemerintah daerah perlu melampaui simbolisme dan serius mendorong literasi digital yang inklusif bagi generasi muda. Komunitas daring juga perlu memperkuat mekanisme perlindungan agar perempuan tidak merasa sendirian ketika menghadapi pelecehan. Cerita Ilta mengingatkan kita bahwa perempuan muda bukan sekadar pengguna ruang digital. Mereka adalah pencipta makna, penggerak percakapan, dan penjaga nilai keadilan di dalamnya. Pengetahuan yang mereka bagikan adalah kekuatan dan setiap langkah kecil yang mereka ambil dapat berdampak besar bagi orang lain.

Pada akhirnya, kesetaraan di ruang digital bukanlah sesuatu yang abstrak. Ia dimulai dari keberanian mendengarkan pengalaman perempuan muda, mempercayai cerita mereka, dan menghapus bias yang selama ini dianggap wajar. Ia hidup dalam keputusan sederhana untuk terus berbicara, meski ruangnya belum sepenuhnya ramah. Dan di layar kecil itulah, dalam percakapan yang jujur dan solidaritas yang tumbuh perlahan, kesetaraan mulai menemukan bentuknya.