Di Indonesia, kisah perempuan sebagai pencari nafkah utama bukan lagi pengecualian. Data Badan Pusat Statistik (BPS) 2024 menunjukkan bahwa sekitar 20 persen rumah tangga kini dikepalai perempuan, dan dalam banyak keluarga, perempuan memberikan kontribusi signifikan bahkan dominan terhadap pendapatan rumah tangga. Temuan Sakernas BPS juga memperlihatkan meningkatnya partisipasi perempuan dalam kerja berupah, terutama di sektor-sektor yang menopang kehidupan sosial seperti pendidikan, kesehatan, dan administrasi publik.
Di Nusa Tenggara Timur (NTT), realitas ini terasa semakin nyata. Perempuan bekerja sebagai guru, tenaga kesehatan, aparatur sipil, dan pekerja layanan publik lainnya, menjadikan mereka bukan hanya penopang rumah tangga, tetapi juga bagian penting dari denyut ekonomi daerah. Namun, perubahan peran ini tidak selalu berjalan seiring dengan penerimaan sosial. Norma lama masih kerap menempatkan laki-laki sebagai pencari nafkah utama, sementara perempuan tetap dibebani ekspektasi domestik. Pada titik inilah kisah keluarga Melhans dan Diana berbicara, bukan semata sebagai cerita personal, melainkan sebagai suara kesetaraan yang tumbuh dari ruang paling sederhana: rumah.
Keputusan mereka bertukar peran bermula dari situasi hidup yang berubah. Diana mendapat pekerjaan tetap di sebuah kampus negeri di kota Kupang. Masa depan keluarga menuntut kestabilan ekonomi, sementara kebutuhan anak-anak yang masih kecil memerlukan pengasuhan penuh. Dalam pembicaraan berdua, mereka sama-sama bertanya: siapa yang paling siap mengasuh secara intensif? Jawabannya adalah Melhans. Ia mengundurkan diri dari pekerjaannya di sebuah bank swasta di kota Soe dan mengambil alih peran sebagai pengasuh utama bagi tiga anak mereka. “Bukan karena saya tidak mampu bekerja lagi, tapi karena kami memilih yang paling adil untuk anak-anak,” ujarnya. Pilihan itu mematahkan banyak asumsi orang sekitar. Ada yang berbisik bahwa ia “menurun martabat”, atau Diana “tidak patuh pada kodrat”. Namun bagi mereka, keluarga tidak dijalankan berdasarkan penilaian orang, melainkan kebutuhan nyata yang mereka hadapi.
Setiap pagi, Melhans mengurus sarapan, mengantar anak ke sekolah, mencuci pakaian, menjaga si bungsu yang masih berusia satu tahun lebih, dan memastikan rumah tetap berjalan meski istrinya bekerja di kota lain. “Saya tidak merasa menggantikan peran siapa pun. Ini tugas orang tua,” katanya. Nilai kesetaraan yang ia pegang tidak datang dari buku teori, tetapi dari pengalaman hidup, terutama setelah kedua orangtuanya meninggal. “Saya belajar bahwa hidup itu saling jaga. Dan menjaga itu bukan tugas perempuan, tapi tugas manusia.” Ketika anak-anak bertanya mengapa ayah berada di rumah, ia menjelaskan dengan lembut bahwa peran dalam keluarga bisa dibagi, bisa ditukar, dan bisa dinegosiasikan. “Saya bilang ke mereka: Papa jaga rumah agar Mama bisa bekerja. Itu bukan hal aneh; itu kerja sama.”
Namun yang paling terasa dalam rutinitas ini adalah perjalanan emosional anak kedua mereka. Anak laki-laki itu baru kelas satu SD, anak tengah yang sering dianggap “kuat”, tetapi justru memikul beban paling berat. Ia sangat dekat dengan ibunya, sehingga ritme hidup Diana pulang setiap Jumat sore, kembali ke Kupang Senin dini hari adalah siklus rindu yang harus ia jalani setiap minggu. Melhans sering menemukannya menangis dalam diam, terutama pada Minggu malam saat Diana mulai membereskan tas kerjanya. “Dia tidak mau menangis keras-keras, tapi saya tahu dari matanya,” ujar Melhans. Dalam duka kecil itu, tumbuh pula kedewasaan yang dipaksa datang terlalu cepat. Anak itu belajar menerima kenyataan bahwa cinta ibunya tidak berkurang meski jarak memisahkan.
Diana sendiri menjalani rutinitas berat itu dengan hati yang sering terbelah. Setiap Jumat sore, setelah menyelesaikan tugas, ia langsung menuju terminal untuk pulang ke Soe. Ia tiba malam hari, mencium anak-anak satu per satu, dan memeluk si bungsu yang langsung menempel padanya seperti tidak mau dilepaskan. Sabtu adalah hari ia mencoba menjadi ibu seutuhnya dalam waktu yang sempit: mencuci, memasak, menemani anak bermain, memeriksa buku sekolah, dan membantu tugas-tugas kecil yang ditunda karena jarak. Namun Minggu malam selalu menjadi ujian emosional. “Anak kedua saya paling berat melepas. Dia bilang, ‘Mama, jangan ke Kupang dulu.’ Itu kalimat yang menghantam,” kata Diana perlahan. Namun ia tetap memilih bertahan, karena pekerjaan itu adalah sumber stabilitas bagi masa depan anak-anak.
Di kampus, Diana bekerja dengan profesional, tetapi tidak selalu dengan tenang. Ia membawa beban emosional yang jarang dilihat orang, beban seorang ibu yang harus membagi diri antara ruang kerja dan ruang keluarga. Ia berharap pemerintah menciptakan kebijakan yang lebih ramah keluarga, misalnya akses transportasi aman, fleksibilitas kerja bagi ibu yang tinggal terpisah, hingga cuti ayah yang memungkinkan pasangan berbagi pengasuhan lebih setara. “Kesetaraan gender butuh dukungan negara, bukan hanya niat baik keluarga,” ujarnya.
Meski demikian, ia tahu betul bahwa keberhasilannya bertahan sejauh ini tidak terlepas dari peran Melhans. “Dia membuat saya tetap menjadi ibu, meski tidak selalu berada di rumah,” kata Diana. Sedangkan bagi Melhans, peran ini mengubah cara ia memahami kepemimpinan keluarga. “Mengurus anak membuat saya lebih peka. Saya jadi tahu mengapa perspektif perempuan penting, karena merawat itu mengajarkan empati.”
Kisah mereka membuktikan bahwa kesetaraan bukan sekadar wacana; ia menjelma dalam keputusan-keputusan kecil yang diambil setiap hari: siapa yang bangun malam ketika anak demam, siapa yang memegang kendali ekonomi, siapa yang menguatkan ketika jarak membuat rindu terasa panjang. Anak-anak mereka tumbuh memahami bahwa menjadi laki-laki tidak harus berarti mendominasi, dan menjadi perempuan tidak harus berarti tinggal di rumah. Mereka belajar bahwa keluarga adalah tempat kerja sama, bukan tempat menetapkan hierarki.
Di tengah masyarakat yang masih memandang aneh keluarga dengan peran yang bertukar, Melhans dan Diana menunjukkan bahwa rumah bisa menjadi ruang paling awal dan paling kuat untuk meruntuhkan bias gender. Suara mereka mungkin tidak lantang, tetapi ia mengalir lewat Tindakan, lewat seorang ayah yang menggendong bayinya di halaman, lewat seorang ibu yang menempuh perjalanan dini hari demi tetap terhubung dengan anak-anaknya, lewat seorang anak kecil yang belajar bahwa tangis bukan tanda lemah, tetapi tanda cinta yang bekerja keras memahami keadaan. Kesetaraan, bagi keluarga ini, bukan teori yang diajarkan. Ia adalah hidup yang dijalani. Dan dari rumah kecil mereka di Soe, sebuah suara pelan namun kuat lahir: bahwa keluarga tidak harus tunduk pada pola lama; ia bisa menegosiasikan jalannya sendiri menuju keadilan.